Kabar Nagari

Aplikasi Injil Berbahasa Minang, Begini Tanggapan Niniak Mamak dan Aktivis Akademika dari Ranah Minang

Jakarta, Mahasiswa dari berbagai Universitas yang ada di seluruh pelosok negeri menggagas sebuah Webinar yang membahas terkait isu adanya aplikasi injil yang berbahasa minang melalui video conference Aplikasi Zoom yang melibatkan niniak mamak jo alim ulama asal Ranah Minang. Webinar ini juga mengundang Buya Gusrizal Gazahar (Ketua MUI Sumatera Barat). Pidato di awali oleh mamak Januarisdi selaku Budayawan Minang Kabau. Di dalam Pidatony mamak Januarisdi menegaskan ” Apo yang di kato oleh syarak, itu yang dipakai oleh adaik”.

Timbulnya aplikasi injil berbahasa minang ini pastinya menimbulkan kegelisahan masyarakat minang, tujuan dari aplikasi ini adalah kaum muda minang alasan nya yang kaum muda minang yang masih labil dan aktif dengan gadget nya sehingga oknum menargetkan aplikasi untuk mempengaruhi akidah kaum muda minang” sambung mamak Januarisdi.

Kemudian di lanjutkan oleh uda Yuherman. “Bahwa isu aplikasi injil berbahasa minang mungkin merupakan suatu disain dan kita tidak tahu siapa yang mendisainnya tetapi hasil disain nya tersebut dapat mengancam eksistensi keberadaan masyarakat minang sebagai suku anak bangsa. Terget dari injil berbahasa minang ini adalah kaum muda minang karena yang aktif dengan teknologi android sekarang adalah pada umumnya kaum muda. Meski aplikasi ini sudah tidak ada lagi di playstore, namun masalah ini belumlah bisa dikatakan selesai. Kita harus tau apa tujuan dari ada nya aplikasi ini, siapa pendisainnya, ini jadi tugas kita selanjutnya sebagai masyarakat minang.”

Buya Gusrizal Gazahar menyampaikan “Ini adanya pihak-pihak yang menangguak di aia karuah, yang tidak ingin Minangkabau itu di cap sebagai masyarakat yang identik dengan islam. Injil berbahasa minang ini sudah terjadi sejak lama, dahulu bentuknya berupa fisik sekarang bentuk nya dalam bentuk aplikasi. Langkah kita sebagai masyarakat minang adalah Ulama harus kembali melakukan Tarbiyah (binaan) dan tidak hanya sebatas penceramah saja. Dahulu di Minangkabau tidak ada yang nama nya surau ndak babuya, buya ndak basurua. Tapi sekarang yang terjadi buya pergi jalan jalan sepanjang hari dari satu mesjid ke mesjid lainnya, sehingga banyak masyarakat minangkabau yang tidak terbina dan umat seperti ini yang di manfaatkan oleh sekolompok oknum. Kemudian antara adat dan syarak harus segera kita pahami kedudukan nya, karena masih terdengar pepatah adat dengan syarak jo aua ba aua jo tabiang sanda manyanda kaduo nyo, konten pepatah ini tidak bisa di aplikasikan lagi karena ini adalah proses lama. Karena gak mungkin syarak basanda ka adaik. Syarak di manapun tegak dia bisa berdiri sendiri.”

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *